Rabu, 22 Juli 2015

Episode 1 - Awal langkah

Kalian yang sekarang lg baca blog ini, aku yakin banget kalian pasti ga tertarik untuk baca sampe beres atau mungkin terpaksa untuk ngebacanya. emang sih blog ini jauh dari kata menarik, cuma berisi tulisan" yang alakadarnya. :3
Bahkan kalian udah sempetin baca sampe sini aja gw udah ngerasa bahagia banget.
Oke...Oke, langsung aja ya aku rasa cukup kata pembukanya sebelum kalian bener" close tab.

Siang itu pengumuman kelulusan sekolah tingkat pertama diberitahukan. Aku yang emang seorang pelajar bodoh menerima surat yang bertuliskan bahwa seorang dengan panggilan "Pato" yaitu aku sendiri telah dinyatakan "LULUS". Kalian pasti tau ekspresi apa yang harus aku tunjukin waktu itu. Yaps.. tepat sekali. Aku sama sekali gak bahagia. karena harus berpisah dengan wanita berparas cantik bak enjelina joli yang udah tiga tahun ku kenal. Ratna, sebuah nama yang terdaftar di list absensi. Ya dia teman sekelas ku sewaktu SMP, dia seorang wanita yang mampu menarik perhatian sang ksatria mungil ini. So.. ga mau banyak cerita tentang kisah cinta sewaktu SMP. karena cerita cinta aku ini rumit bgt sob. Intinya diri ini ga bisa ungkapin isi hati ke dia. Kalian tau kan rasanya saat kalian suka sama seseorang tapi kalian ga pernah berani nyatain ke si dia. #OowwwW.

Tapi bukan karena aku pengecut saat itu. Aku pernah nyatain cinta ke dia. Dlu hati aku terang2an (bahkan lebih terang dari lampu Philips) berkata "Na, Gue suka sama lo".  Tapi Dia ga pernah respon bahkan jawab juga engga. :3
Disitulah aku merasa seakan semut begitu kecil. Angin menjadi tak terlihat. Bahkan mataharipun terasa panas siang itu.

***

Setelah mengalami tragedi shyndrome kegalauan sewaktu SMP. Aku memilih STM swasta sebagai tujuan lanjutan jenjang pendidikan. Mengikuti rekan" sepantaran yang rumahnya deket"an sama rumahku.
Bukan tanpa pertimbangan memilih STM swasta sebagai tempat lanjutan untuk menjenjang pendidikan. Aku udah sempat mengambil brosur2 sekolah negeri yang terkenal diplanet (Cikarang). Berbagai brosur dengan pernak pernik keunggulan sekolahnya terpampang jelas dikertas berukuran kecil itu. Tapi yang menarik perhatian dan paling jelas terlihat dibrosur itu bukanlah tulisannya. Melainkan latar dari brosur itu adalah siswa/i cantik yang menjadi model dadakan dengan gedung sekolah yang menjadi latar belakangnya.. ya cuma itu yang ku inget dari sekian bnyak brosur yg diambil".

Brosur yang menumpuk cuma sebagai bukti ke orangtua. Bahwasanya udah coba nyari sekolah yang kualitasnya bagus. Tapi Hati ku berbicara lain. memilih masuk STM swasta yang bertradisikan tanpa kedisiplinan dan terkenal kenakalan siswanya ditelinga warga membuat diriku tertantang.

 Ya disekolah swasta dengan perbandingan 45 cwo / 0 cwe dalam satu ruang kelas inilah aku belajar banyak hal. Bukan tentang ilmu yang guru berikan. Kalo itu sih Sama sekali ga ad yg masuk, mungkin buat kalianÅ« yang sekolah d swasta juga merasakannya. Bahkan cuma masuk dr kuping kanan keluar kuping kanan. Sama sekali ga berputar di dalem otak.  Bukan.. Bukan tentang matematika yang cuma buat pusing, bukan bahasa inggris yang sulit diingat, bukan tentang kimia, fisika dan pelajaran lainnya yang tak dapat diingat namanya. bukan hal semacam itu yg gue pelajari. Tetapi tentang arti kenakalan remaja yang mencari jati diri, solidaritas dari pertemanan, makna kebersamaan, kekompakan, ya hal itu ga d ajarin oleh guru tapi lebih mudah dimengerti. Berbicara tentang STM swasta yang rata2 penghuninya "berbatang". Udah ga aneh klo sering perang. Hal itu aku alamin. Menjadi yang terkuat merupakan salah satu dari pencarian jati diri. Bukan untuk dirinya melainkan menjaga dan melindungi arti dari sebuah nama dan harga diri.
Nama sekolah kamilah yang selama tiga tahun kami jaga agar tidak diremehkan oleh sekolah lain. Bahkan kami siap bertempur untuk menjaganya. Terdengar sangat lebay tapi itulah yang terjadi. Saling Melindungi dan menjaga teman dari kekerasan siswa sekolah lain sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai teman. Inilah pikiran dangkal kami para remaja ABG. "Tapi disitulah kami belajar, kami mengerti. Bahwa belajar dapat dimana saja. Tidak hanya disekolah. Banyak rekan kami yang pintar yang masuk sekolah Negeri. Yang mungkin akan menjadi penerus pejabat" di Negara ini. Kami hanya sebagian kecil dari mereka. Yang Kami tau hanya mencari arti dari kata Melihat bukan Memandang". Ya itu lah yang gue rasain sewaktu di STM.

***
Dalam perjalananmu kau akan belajar.


Inilah kami pencari Arti sebuah Makna

*** Bersambung ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar