Masih dalam kenikmatan dan kebahagiaan masa muda yang jernih tanpa sedikitpun tersentuh noda bernama "masalah". Terjebak dalam pergaulan dan kenakalan sewaktu di sekolah membuatku semakin tak menemukan tujuanku. Bolos sekolah hingga 2 - 3 bulan entah aku lupa waktu pastinya. sewaktu duduk dikelas 2 STM saat itu menjadi pengalaman hebat yang mungkin tidak dapat dirasakan oleh siswa lain disekolah Negeri.
Alam atau biasa dipanggil Loback karena rambutnya yang mirip sayur brokoli hingga dipanggil lobak .. memiliki badan besar dengan kulit berwarna sawo busuk. Dia adalah teman seperjuanganku sewaktu di sekolah menengah kejuruan. Kerjaan kami hanya bermain playstasion atau duduk nongkrong hingga jam pelajaran habis. Sekolah ku memang tidak terlalu ketat dalam kedisiplinan bahkan keluar masuk pintu gerbang sekolah disaat jam pelajaran sudah bukan hal yang aneh. Pintu gerbang bercat biru tua itu seakan memanggil untuk menyuruh keluar. Tidak ada satpam atau penjagaan di gerbang sekolah. Entah mengapa sekolahku tidak memiliki satpam mungkin terlalu banyak ancaman oleh siswa2 yang tidak suka jika terlalu diatur.
"To, cabut yuk" seru loback dengan cirikhas bicara yang suka ga jelas ditelingaku.
"Kemana ?" Sahutku / "saprol aja" (warung sekaligus rental ps tempat kami biasa menghabiskan waktu saat jam sekolah yg membosankan). Diriku yang memang sudah berfikir sekolah membosankan selalu mengiyakan ajakannya.
Tidak lama kami duduk dengan hembusan asap yang keluar dari mulut dan hidung kami. Tiba" kami diserang oleh segerombolan siswa dari sekolah lain. Ya jumlahnya sekitar 6 hingga 10 orang. "Woiii sini loo bangsat.." teriakan dari kejauhan menantang.. aku yg berbadan kecil ini cuma bisa berlari sekencang2nya menghindari penjarahan. Ya disitu hanya ada kami berdua. Tidak seperti biasanya yg ramai oleh siswa dr sekolahku mungkin mereka sudah tau lebih dlu kalo akan diserang sehingga tidak ada sebatang hidungpun yg terlihat.
Aku tertangkap. Sama halnya dengan temanku. Kami yang tidak tahu masalahnya menjadi korban penjarahan. Ya sial memang hari itu. Tas, topi, jaket dan uang saku diambil semua. Dilihat dari jaketnya mereka ternyata anak boepoer. Ya kami tahu tanpa melihat bet sekolah yang memang tidak pernah dipasang. Boepoer adalah musuh sekolah kami. Entah mengapa begitu tapi ini sudah bertahun2 aku ketahui sblm aku masuk sekolahku saat ini.
Setelah kejadian yg sial itu. Aku hanya menyakukan satu buku tulis di saku celana belakang. Hingga aku lulus aku tidak pernah membawa peralatan lengkap sekolahku. Tidak lama dari itu mungkin 3 hari setelah penjarahan itu sekolah kami (715) menyerang boeper. Ya mini bus berukuran tigaperempat "tiger" dari ukuran bus. Dan mobil tronton yang biasa kami sebut "bale" menjadi tunggangan kami menuju lokasi dimana anak boeper nongkrong sepulang sekolah. Dilampu merah itu perempatan jalan. Menjadi lokasi favorit pertarungan kami. Tanpa basa basi. Teriakan "Anjing, Mati, Bangsat" terdengar berkoar2. Peperangan dimulai. Kami yang bersenjatai gear yg diikatkan pada sabuk ikat pinggang. Busur dan benda2 tajam lainnya berusaha menakuti mereka. Perlawanan diberikan. Dengan menggunakan bambu dan batu kami disambut. Tidak lama memang hanya sekitar 10 menit. Karena polisi dan warga yang mulai ikut campur. Kami berlarian memasuki gang kecil. Hingga akhirnya kembali kedepan sekolah sore itu.
Ya para jagoan sekolah itu berkumpul. Tidak banyak yg aku lakukan saat tawuran itu. Aku hanya ikut meramaikan dibelakang tanpa harus bertarung d depan karena memang aku bertubuh mungil :3
Yang aku ingat saat itu adalah seorang temanku yang berada pada posisi baris terdepan. "Simonn". Teman sekelasku yang masih teringat jelas dikepalaku saat mendapatkan luka ditangan kanannya. Luka dengan beberapa jahitan. Ya dia berada paling depan pada saat kejadian itu. Tubuh tinggi dengan badan lumayan berisi menempatkannya menjadi seseorng yg diposisikan didepan. Dan Q-tink orang yang berbadan gembul tengil namun pemberani ini juga membuatku selalu mengingat namanya badan yang bogel gembul ini bernyali besar. Mampu membaca kondisi disaat keadaan berada dibawah tekanan.
Memang lelah rasanya. Tapi sebaiknya jangan tiru. Ini hanya kenakalanku sewaktu aku tak tahu harus kemana aku melangkah dengan kebebasan yg diberikan orangtuaku.
Hingga akhirnya acara ritual yang sama sekali tidak aku suka dimulai. pengumpulan uang untuk membeli barang yang hilang. Bnyak barang atau biasa kami sebut dengan BR (benda tajam) yang terjatuh sewaktu tawuran sehingga kami harus merestock kembali. Dan ditambah biaya kerusakan mobil angkutan umum dan fasilitas lain yg diminta dari sekolah. Kamipun naik kelas 3 dimana kami harus lebih terfokus pada ujian dan menggantikan tradisi yang buruk ini kepada junior kami. Tapi ...
Bung simonn
Teman seperjuangan
Menunggangi kuda besi
*Saya tidak bermaksud mengajarkan kalian tawuran ataupun yang buruk. Ambilah pelajaran yang baik dalam blog ini*.
*** bersambung ***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar